[Vignette] The Last Winter

the last winter

Title : The Last Winter || Author : Bells Trix || Main cast : YeYoon couple || Genre : Sad Romance/Hurt || Length : Vignette – 3.500+ words || Rating : PG-13

Disclaimer : This story is pure my imagination. Please don’t copy paste to anywhere! I warn you! All characters is belongs to God, but the story is belongs to me. SAY NO TO PLAGIATOR and SILENT READERS! :)

P.S : Feel free to correct my story ;)  sebenernya ini FF jadulku dari SMP tapi aku re-make lagi pake cast YeYoon dan sedikit pembenahan sana-sini :) Jadi tolong dimaklumi kalau ada typo yg tersebar dimana-mana😄 HULI & Happy reading ^^

Full Credit : │█│█▌│▐▐▐▐│█▌▐▐ ©Bells Trix™® [take out with full credit, please!]

“Siap tidak siap, kita harus selalu siap dalam menghadapi semua kenyataan terpahit yang selalu ada di hidup kita–Im YoonA.”

—————————-NO BASH, please!——————————-

Yoona P.O.V

Aku memandangi butiran-butiran salju yang turun di taman rumah sakit dari dalam ruangan rawatku. Ingin sekali aku keluar untuk bermain salju seperti dulu, sebelum aku masuk rumah sakit seperti ini. Membuat sebuah boneka salju yang selalu membuatku gemas. Bermain lempar salju dengan teman-teman. Ingin sekali rasanya. Namun tentu saja tidak mungkin. Karena aku tidak diperbolehkan keluar sampai benar-benar sembuh total. Apalagi ini musim salju. Pasti akan sangat dingin.

Sudah sekitar dua minggu aku tinggal di rumah sakit ini. Menderita penyakit yang membuat hidupku hampir tak berdaya. Aku terus mencoba untuk bertahan hidup walaupun dokter memvonis umurku tinggal 2 bulan lagi. Tapi aku tidak percaya, karena hanya Tuhan lah yang menentukan semua bukan seorang dokter. Orang-orang di sekitar ku juga selalu mendukungku supaya tidak berputus asa. Terutama Yesung oppanamjachinguku.

Yesung oppa sangat menyayangiku. Dia selalu ada disampingku setiap aku membutuhkannya. Menerimaku apa adanya walaupun aku mengidap sebuah penyakit mematikan. Tapi dia tetap setia bersamaku. Kesetiaan itulah yang membuatku yakin bahwa dia memang mencintaiku. Begitu pula aku yang semakin hari semakin sayang dan cinta kepadanya.

Tring .. tring .. tring ..

Bunyi suara ponselku membuatku kaget. Aku segera mengambilnya di buffet sebelah ranjang. Ternyata Yesung oppa yang meneleponku. Sontak saja perasaanku lansung berbunga-bunga. Tanpa menunggu lama, aku pun segera mengangkat telepon itu.

Yeoboseoyo, oppa!” kataku sambil tersenyum.

Ne, chagi. Ige mwoya? Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja kan?“ tanyanya mengkhawatirkanku. Tentu saja aku lansung dibuat senyum-senyum sendiri walaupun dia tidak bisa melihatku.

“Hanya berdiam diri di kamar sambil melihat salju turun. Aku bosan, oppa. Bisa kau datang kesini untuk menemaniku?“

Gurae, chagi. Aku segera kesana secepatnya. Kalau begitu aku harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku dulu. Kau mau bersabar sebentar, kan?“

Ne, baiklah, oppa. Aku selalu bersabar menunggumu hehe.“

Gomawo, chagi. Saranghaeyo.“

Nado saranghaeyo, oppa.

Aku menutup flip ponsel genggamku. Kemudian turun dari tempat tidur menuju jendela ruanganku. Kebetulan sekali jendela itu tidak jauh dari ranjang. Jadi aku bisa melihat pemandangan luar dari ranjang namun aku ingin melihatnya lebih dekat lagi.

Tampak endapan salju di kayu-kayu jendela. Aku membuka jendela, ingin merasakan salju-salju itu. Udara dingin lansung menerpaku saat jendela terbuka. Aku menyilangkan kedua tanganku di dada dan merapatkannya. Mengurungkan diri menyentuh salju karena ku pikir akan sangat dingin.

Ruanganku yang menghadap ke arah taman membuatku menjadi merasa nyaman dan betah untuk tinggal disini. Karena di siang hari seperti ini, aku dapat memandangi taman rumah sakit yang tampak indah disaat musim salju. Ya, meskipun kadang-kadang aku juga merasa tidak betah karena aku juga ingin cepat-cepat sembuh. Tapi apa daya dokter masih melarangku. Jadilah aku harus mengadaptasi diri dengan semuanya.

Bunga-bunga di taman itu berubah warna—menjadi warna putih seputih salju. Begitupun dengan rumput-rumput hijau yang tumbuh di taman. Aku benar-benar ingin menginjakkan kaki di taman itu dan segera bermain dengan salju. Walau aku tahu keadaanku tidak memungkinkan. Tapi aku ingin.

30 menit kemudian.

Cklek ..

Suara pintu terbuka. Aku menoleh kearah pintu dan mendapati sosok Yesung oppa disana. Dia tersenyum manis padaku dan aku pun membalasnya. Yesung oppa menutup pintu ruangan sedangkan aku berjalan menghampirinya. Tapi aku heran, kenapa Yesung oppa cepat sekali datang kesini? Ah biarlah, yang penting dia mau datang menemaniku. Mungkin karena jarak kantor dan rumah sakit yang dekat jadi dia bisa datang secepat ini.

Chagi, kenapa kau turun dari tempat tidur? Memangnya kau sudah sehat?“ Kedua tangan Yesung oppa merangkul bahuku. Wajahnya menunjukkan raut khawatir.

Aku mengulum senyum lalu menjawab kekhawatirannya,“Oppa, aku sudah sehat kata dokter. Lihat saja, infusku sudah boleh dilepas.“ kataku seraya menunjukkan tangan kiriku yang sudah tidak diinfus. Ya, sehat sementara—selalu seperti itu.

“Kau ini, selalu saja membuatku khawatir. Syukurlah kalau kau sudah sehat.“ Hembusan nafasnya terdengar jelas di telingaku. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya selalu mengkhawatirkanku seperti ini—seperti takut kehilanganku.

“Aku bosan terus-terusan disini, oppa. Mau menemaniku keluar ke taman?“ rengekku dengan memasang puppy eyes.

Yesung oppa membelalakkan matanya. Aku tahu dia pasti tidak membolehkanku keluar ke taman. Tapi aku kan bosan disini terus dua mingguan ini. Aku ingin sekali saja menyentuh musim salju.

“Ayolah, oppa. Aku bosan sekali. Ya ya?”

Yesung oppa melepaskan kedua tangannya dari bahuku. Dia memandang kearah lain dari ruangan ini. Aku berharap dia mau menemaniku untuk keluar menikmati musim salju hari ini saja. Meskipun air mukanya tiba-tiba berubah menunjukkan rasa keberatan.

“Tapi, chagi .. Diluar sana sangat dingin. Aku takut kau sakit lagi. Disini saja ne?“ ujarnya membujukku namun aku tetap tidak bisa menolak kata hatiku.

Oppa .. hanya hari ini .. saja.“ kataku memohon.

“Yasudahlah kalau begitu. Tapi jangan lama-lama ne!“ pintanya seraya mencubit hidungku. Aku memanyukan bibir dan malah membuatnya tertawa.

Ne, hanya sebentar. Gamsahamnida, oppa.“ aku merangkulnya karena sudah mau menemaniku keluar ke taman.

Aku melepaskan pelukanku. Kemudian menggandeng tangannya. Berjalan mengajaknya menuju taman rumah sakit dengan perasaan yang sudah tidak sabaran. Mungkin ini adalah efek karena terlalu lama dikurung di dalam ruangan rumah sakit. Aku juga sudah tidak sabar sekali ingin menikmati dinginnya musim salju diluar sana.

Sesampainya di depan pintu utama rumah sakit.

Hawa dingin lansung menerpa tubuhku. Ku rasakan aku akan segera menggigil. Namun Yesung oppa cepat-cepat melepas jas kerjanya lalu memberikannya padaku. Mau tidak mau, aku harus memakainya. Ukurannya ternyata besar sekali di badanku. Tapi tidak apalah, yang penting aku merasa hangat sekarang.

Yesung oppa segera memeluk tubuhku erat-erat—seperti tak mau melepaskannya. Tangannya sedikit bergemetar karena dingin. Aku jadi merasa bersalah jika keadaannya seperti ini.

Aku mengajaknya duduk di kursi taman yang berada di bawah pohon rindang—yang menghalangi salju turun di bawah pohon ini. Jadi aku tidak perlu khawatir tubuhnya akan terkena butiran salju yang turun dengan derasnya hari ini.

Yesung oppa semakin mengeratkan pelukannya. Suasananya menjadi sangat romantis menurutku. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Yesung oppa menoleh kearahku lalu melempar senyum. Senyuman yang selalu bisa membuat jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya.

Eottokhae? Apa kau sudah puas?“ tanyanya namun tidak menatap ke arahku.

Aku masih terdiam menikmati dinginnya musim salju ini—tanpa menjawab pertanyaannya. Sesekali tanganku menjulur kedepan merasakan salju yang turun melalui celah-celah dedaunan pohon. Tanganku hampir menggigil merasakan dinginnya salju yang mengendap di telapak tanganku. Padahal salju yang turun dibawah ini tidak begitu banyak.

Oppa ..” kataku lirih bahkan hampir tak terdengar.

Yesung oppa menoleh. Ia malah mengelus lembut rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku merasa nyaman jika berada di dekatnya. Hangat. Seperti merasa dilindungi. Berada dipelukannya membuat tubuhku merasa hangat dan nyaman.

Aku tersenyum samar.“Oppa ..“ kataku dengan nada sedikit keras.

Ne, chagi. Ada apa?“ jawabnya seraya menatapku dengan menyunggingkan senyumnya yang menawan.

“Mmm ..“ aku berpikir keras mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan yang mungkin akan menjadi serius ini.“Oppa .. tidak mau mencari wanita lain?“

“Eh?!“ Yesung oppa terbelalak kaget. Matanya menatap tajam kedua bola mataku. Wajahnya menampakkan raut kebingungan.“Memangnya kenapa, chagi?“

Gwenchana. Kenapa oppa masih mencintai aku? Aku ini kan sakit-sakitan.“

Ku dengar ia menghembuskan nafas panjang. Sepertinya dia tidak suka dengan apa yang ku bicarakan barusan.

“Kenapa kau berkata seperti itu, chagiya? Kau tidak mencintaiku lagi, eoh? Sehingga menyuruhku mencari wanita lain? Meskipun kau sakit-sakitan, tapi aku akan tetap mencintaimu, selamanya. Kau harus tahu itu.“ Ujarnya menjelaskan kemudian mengecup lembut keningku. Mendengar penjelasannya membuatku sangat bahagia. Itu berarti hanya akulah satu-satunya yeoja yang ia cintai.

“Benarkah, oppa?“ aku tersenyum samar. Yesung oppa hanya mengangguk kecil.“Aku juga akan selalu mencintaimu, oppa. Walau aku sudah tidak berada disisimu lagi nantinya.“

Dia memandangku dengan raut wajah yang lagi-lagi kebingungan—terkejut sepertinya.“Kau bicara apa, chagi? Jangan nglantur!“

Aku menatap wajahnya. Dan dia berbalik menatapku. Wajahnya selalu terlihat tampan dan ramah. Tampak ceria setiap harinya. Dan di bibirnya, juga selalu ada senyum menawannya untukku. Aku tidak tahan melihatnya terluka nantinya karena sesuatu yang mungkin membuat hidupnya menjadi kacau—mungkin saja. Tetapi aku juga tidak tahu pasti.

“Bagaimana kalau aku meninggalkanmu, oppa?“

Alisnya bertaut. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi yang cukup bingung.“Meninggalkanku? Karena apa? Jangan berkata seperti itu, chagi!“ serunya lalu tersenyum—ah manis sekali. Aku pasti akan merindukan senyuman itu suatu saat nanti.

Oppa .. Bagaimana kalau ada yang memisahkan kita nantinya?“

Yesung oppa semakin bingung dengan perkataan-perkataan anehku ini. Berapa kali aku membuatnya bingung hari ini? Entahlah, tapi semua kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Tidak ada yang bisa memisahkan kita!“ tukasnya lalu menerawang kedepan—melihat butiran salju yang mengendap di jalanan depan rumah sakit.

“Ada.“

“Eh? Siapa? Siapa yang berani memisahkan kita?“

“Kematian, oppa.“

Yesung oppa terperanjat begitu mendengar penjelasanku. Aku tahu dia pasti mengira bahwa aku sedang tidak waras atau sudah tidak mencintainya lagi. Karena perkataan-perkataanku yang aneh itu. Tapi itu bisa menjadi kenyataan bukan? Bagaimana nanti kalau ternyata perkataanku itu benar terjadi? Kenyataan itu harus siap dihadapi. Siap tidak siap, kenyataan terpahit dalam hidup kita pasti akan datang juga.

Chagi, apa kau tidak kedinginan?“ tanyanya yang seperti mengalihkan pembicaraan.

Aku menghembuskan nafas berat.“Ne, oppa. Sangat dingin. Aku tiba-tiba merasa lelah sekali, ingin tidur.“

“Baiklah, ayo kita masuk! Nanti kau sakit lagi. Kau kan baru saja sehat.”

Aku mengangguk saja mendengarnya. Yesung oppa tetap memelukku seerat mungkin. Seakan-akan ingin melindungiku dari serangan dinginnya musim salju saat ini. Kedua tanganku ku lipat rapat di dada. Kemudian segera berjalan masuk ke dalam rumah sakit.

Saat memasuki rumah sakit, udaranya sedikit lebih baik. Aku merasa hangat sedikit karena sudah berada di dalam ruangan. Dan Yesung oppa juga sedikit merenggangkan pelukannya.

Kami berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit yang penuh dengan para pasien yang sedang duduk bersantai. Mereka menatapku dengan tatapan aneh yang membuatku sedikit takut. Aku menenggelamkan kepalaku di dada bidang milik Yesung oppa. Aku merasa ada banyak pasang mata aneh yang menatapku saat ini. Tapi aku juga tidak tahu apa maksud dari semua tatapan itu.

Cklek ..

Yesung oppa membuka pintu ruanganku. Kemudian kami berdua masuk. Sepi. Sunyi. Itulah suasana ruanganku saat ini setelah kami tinggal beberapa saat yang lalu.

Aku melihat jam dinding yang terletak diatas pintu kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 KST. Tidak terasa bagiku—waktu berlalu begitu cepat.

Aku bergegas menuju tempat tidurku. Dengan masih mengenakan jas kerja milik Yesung oppa. Sedangkan Yesung oppa duduk bersandar pada kursi yang sudah disediakan dekat tempat tidurku ini.

Oppa .. aku mengantuk. Boleh aku tidur?“ aku menguap dengan lebar menunjukkan bahwa aku benar-benar mengantuk. Kedua bola mataku mengeluarkan air karena menguap.

Dia menatapku kemudian tersenyum. Tangan kanannya mengacak lembut rambutku.“Ne, chagi. Tidurlah. Aku disini akan menemanimu. Kalau kau sudah bangun nanti, akan ku telponkan appa dan eomma-mu supaya ikut menemanimu juga disini. Jadi kau tidak kesepian.“

“Tidak perlu repot-repot, oppa. Appa dan eomma pasti sibuk bekerja dan tidak bisa datang.” Ujarku sambil menghembuskan nafas panjang dan berat. Ya, kedua orangtuaku pasti sangat sibuk bekerja. Mereka bahkan seperti tidak peduli kepadaku—anak semata wayangnya—yang sedang dirawat di rumah sakit. Bagiku, mereka sudah seperti sebuah mesin uang yang tidak ada hentinya bekerja sepanjang waktu. Padahal aku sangat membutuhkan sekali kehadiran mereka disaat seperti ini. Tapi aku yakin pasti mereka menolaknya.

“Yasudahlah. Cepatlah tidur! Sweets dream, chagiya.” Yesung oppa berdiri dari tempat duduknya kemudian mengecup puncak kepalaku. Tidak lupa ia menyuguhkan senyuman manisnya untukku. Aku membalasnya dengan senyuman khasku juga.

Yesung oppa memasangkan infus pada punggung telapak tangan kiriku kembali. Dan aku mulai mengenakan selang infus pada hidungku kembali. Alat penghitung detak jantungku juga mulai bekerja.

Aku mulai memejamkan mata. Seluruhnya sudah tampak gelap sekarang dan tubuhku pun mulai melemah. Dadaku terasa sesak sampai aku susah untuk bernafas. Pertanda apa ini? Tuhan, jika memang sekaranglah waktunya, aku siap. Asal jangan membuat Yesung oppa serta keluargaku terlalu larut dalam kesedihan nantinya. Aku tidak mau. Buatlah mereka mengikhlaskanku jika memang ini sudah saatnya untuk pergi.

Yang aku dengar sekarang hanyalah suara mesin penghitung detak jantungku itu. Lalu suara itu, menghilang. Dan aku tidak mendengar apa-apa lagi. Hanya kesunyian. Hanya kegelapan yang terlihat.

—–

Aku membuka mataku dan kaget bukan main. Bangun dari tidur dan melihat diriku sendiri? Aku juga melihat Yesung oppa yang sedang tertidur di sofa sudut ruangan. Apa ini maksudnya? Apakah ini mimpi? Berkali-kali aku mencubit diriku, namun tidak terasa apa apa. Hampa. Mungkinkah? Mungkinkah aku bermimpi atau ..

“Yoona ..” tiba-tiba ada suara seorang laki-laki yang memanggilku dari arah belakang. Aku terlalu takut untuk menoleh. Karena ku pikir dibelakangku hanyalah sebuah tembok yang membatasi ruangan rawatku dengan kamar.

 

Deg.

 

Laki-laki itu memegangi pundakku dan memaksakku menoleh. Hah? Aku membelalakkan mataku saat melihat sosok laki-laki itu. Ia mengenakan jubah putih yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Dan mengeluarkan sinar yang membuatku silau. Aku menutupi wajah dengan kedua tanganku. Siapa dia? Malaikatkah? Sadarlah, Yoona.

“Yoona, apa kau tidak merasa bahwa jantungmu berhenti berdetak?“ pertanyaan pria itu membuatku kaget. Dengan cepat aku pun segera meletakkan kedua telapak tanganku tepat di daerah jantung—tidak ada detakan seperti biasanya.

“M-m-mwo? Apa maksudmu?“ kataku seraya berbalik membelakanginya. Aku tidak tahan karena terlalu silau.

“Kau bisa melihat dirimu sendiri bukan? Itu tandanya!“

“Ta-ta-tanda apa? Hah? Jebal jangan membuatku bingung!“

“Kau sudah berada di dunia yang berbeda, Yoona! Ikutlah denganku, ku tunjukkan kau sesuatu.“

Mulutku terbuka lebar tanda tidak percaya semua ucapannya. Tidak dapat mengatakan apa-apa. Berbeda dunia? Jantungku sudah berhenti berdetak? Omona!

 

Aku berbalik dan mengikutinya ke suatu tempat. Aku seperti melayang sekarang—kedua kakiku tidak menyentuh permukaan sama sekali. Dia mengubah tembok rumah sakit menjadi sebuah jalan. Jalan untuk menuju ke sebuah tempat yang belum pernah ku jamah sebelumnya.

“Itu tempatnya!“ tangan kanannya menunjuk ke suatu tempat.

 

Aku terperangah saat melihat tempat itu. Tempat apa itu? Benar-benar indah. Tempat yang paling indah dan mungkin tidak ada di dunia. Surgakah? Aku dibuat terperangah lagi karena ‘kejutan-kejutan‘ dari pria itu. Apakah dia seorang malaikat pencabut nyawa? Tidak mungkin! Aku pasti bermimpi. Ayo bangunlah, Yoona!

 

Aku masih diam terpaku di tempatku. Bajuku sekarang berganti menjadi sebuah gaun putih bersih seputih salju dengan kakiku yang tidak menggunakan alas kaki apapun. Munginkah aku sudah ..?

“Hey, siapa aku?“ pria itu berbalik menghadapku. Sinarnya kembali menyilaukan kedua mataku.

“Aku? Kenapa kau masih bertanya jika semuanya sudah jelas? Aku malaikat pencabut nyawa!“ tiba-tiba sinarnya meredup. Aku masih tidak percaya dengan semua ini.

“M-mwo? Pencabut nyawa? Jadi, aku benar-benar sudah ..?”

“Ya, begitulah.“

“Tapi aku belum berpamitan kepada orang-orang di sekitarku. Aku tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Mereka pasti akan sedih sekali.“ Ujarku seraya menekuk raut mukaku—sedih. Tentu saja sedih.

 

“Walau kau meninggalkan pesan atau berpamitan kepada mereka, itu tetap saja akan membuat mereka sedih! Kau ini bagaimana? Sudahlah, kau tidak bisa kembali lagi ke duniamu sekarang!“

Aku menunduk lemas. Yang ada dipikiranku saat ini adalah hanya kedua orangtuaku dan Yesung oppa. Aku bingung harus bagaimana menyampaikan pesan terakhirku. Waktu tidak dapat diputar kembali. Aku harus berusaha menerima semuanya dengan berat hari.

_____*

Author P.O.V

Yesung baru saja bangun dari tidur siangnya. Ia mengangkat tubuhnya untuk duduk. Matanya masih belum bisa membuka sempurna. Ia mengusap lembut matanya. Dan perlahan-lahan pandangannya mulai membaik. Yesung segera bangkit dari duduknya menuju Yoona yang terbaring tak berdaya di tempat tidur dengan selang infus yang masih menempel.

Namun langkah Yesung terhenti setelah melihat alat penghitung detak jantung menunjukkan garis hijau yang datar dan mengeluarkan bunyi yang panjang tanpa jeda. Menunjukkan bahawa jantung Yoona sudah tidak bekerja lagi. Ia mengusap-usap kedua matanya berulang kali. Tetap sama.

Yesung mendekat ke tempat tidur Yoona—memastikan bahwa kekasihnya itu masih hidup. Kedua tangannya memegang telapak tangan Yoona yang tidak diinfus. Ia memandang wajah Yoona yang sekarang tampak sangat pucat dari sebelumnya.

“Yoona-ya. Bangunlah!” Yesung mengoyak tubuh kekasihnya itu pelan. Namun tak ada reaksi apa-apa. Yang ia dapati malah kesunyian dan mata Yoona yang tetap terpejam.”Chagiya .. kumohon, bangunlah!” Reaksinya tetap. Kedua bola mata Yesung hampir berkaca-kaca. Tiba-tiba saja nafasnya terasa tercekat.

Yesung segera berlari keluar mencari seorang dokter. Dan beruntunglah, karena ada seorang dokter perempuan diluar kamar rawat Yoona.

“Dokter!“ panggil Yesung tergopoh-gopoh.

Ne? Apa ada yang bisa ku bantu?“

Ne, kau harus memeriksa keadaan pasien di ruangan ini! Palliwa!“

Dokter itu berjalan cepat memasuki ruangan dimana Yoona dirawat. Dua orang perawat pembantu dibelakang dokter itu juga mengikutinya dengan langkah cepat. Dan Yesung diminta untuk keluar sedangkan dokter dan dua perawatnya itu melakukan pemeriksaan terhadap Yoona.

Setiap detik, Yesung tidak henti-hentinya mondar-mandir kesana kemari. Kedua tangannya mengepal lalu sesekali menghantam udara. Tangan kananya kemudian menutupi mulutnya. Ia tidak henti-hentinya berharap semoga Yoona—kekasihnya—itu masih hidup. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila ia harus hidup tanpa seorang Im YoonA.

Beberapa saat kemudian, dokter dan kedua perawatnya itu muncul dari ruangan Yoona. Dokter itu menghampiri Yesung namun kedua perawatnya bergegas pergi untuk memeriksa pasien lainnya.“Apakah anda keluarganya?” Tanya dokter itu memastikan.

Yesung mendesah pelan,”Ssh .. Bukan. Aku .. hanya kekasih dari Yoona. Bagaimana keadaanya? Dia baik-baik saja, kan?“

Dokter itu menarik nafas panjang. Ia menatap kebawah. Memandangi lantai-lantai putih rumah sakit yang bersih. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan. Seperti tidak tahu harus berkata apa.

“Bagaimana, dok? Dia selamat, kan?” Yesung menggoyangkan tubuh dokter tersebut. Wajahnya sangat cemas—bahkan sekarang ia tidak mampu untuk berpikir dengan jernih.

Mianhamnida, tapi saya gagal menyelamatkan nyawanya. Sudah kami lakukan berbagai cara namun tetap tidak bisa menolongnya. Penyakit kanker paru-parunya sudah mencapai stadium akhir dan dia tidak dapat bertahan lagi.”

Yesung membelalakkan kedua bola matanya hingga hampir keluar. Jantungnya berhenti berdetak seketika. Nafasnya tercekat dan cairan hangat pun mulai menggenang di sudut-sudut matanya.“Hah ..? A-a-apa? Tidak mungkin, dok!!” Yesung lansung menghambur meninggalkan dokter itu memasuki ruangan Yoona. Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Mulutnya terus menganga tidak percaya. Ia berjalan pelan mendekati tempat tidur Yoona. Seluruh alat infus yang tadinya menempel di tubuh Yoona kini sudah dilepas. Kekasihnya itu sudah tidak berdaya. Kedua matanya terpejam untuk selamanya. Wajahnya memucat dan hidungnya sudah tidak mengeluarkan hembusan nafasnya lagi. Namun di bibirnya, ada seulas senyum yang menandakan bahwa ia sudah tenang disana.

Tubuhnya hampir saja terjatuh. Kakinya tiba-tiba terasa tidak mampu menopang tubuhnya. Perasaanya benar-benar kacau saat ini. Yesung meremas rambutnya kasar dengan kedua tangannya. Ia memeluk tubuh kekasihnya yang sudah terbujur kaku itu. Tidak tahu harus berbuat apalagi. Ia hanya bisa menangisi kepergian kekasihnya.

“Yesung!” Tiba-tiba suara seorang wanita muncul begitu saja mengagetkan Yesung. Ia menoleh dan mendapati kedua orangtua Yoona diambang pintu. Mereka lansung berlari menuju kearahnya. Key dapat melihat dengan jelas bahwa ibu Yoona sedang menangis. Tampaknya petugas administrasi sudah menghubungi pihak keluarga Yoona untuk memberitahukan bahwa Yoona sudah tiada.

Ahjumma?” Yesung segera minggir dari tempatnya. Mempersilahkan kedua orangtua Yoona untuk melihat keadaan kekasihnya itu. Ia beralih tempat dan duduk di sofa. Kedua tangannya menutupi wajah—menangis dalam kesunyian dan merasakan kepedihan hatinya. Seketika itu juga tangis ibu Yoona semakin memecah kesunyian. Dan tidak lama kemudian, ibu Yoona pingsan.

_____*

1 Bulan kemudian ..

Yesung datang melayat ke makam yeoja yang sekarang menjadi mantan kekasihnya itu. Perasaan cintanya tidak bisa ia hapus begitu saja. Butuh waktu seumur hidup untuk dapat melupakan Yoona yang selalu menghiasi kehidupannya selama ini. Walaupun ia nantinya sudah memiliki seorang kekasih lagi, namun baginya Yoona tetap tidak akan tergantikan di hatinya.

Ia datang mengenakan jas dan celana kerja berwarna putih. Di tangannya terdapat satu buket bunga mawar segar yang hampir semua berwarna putih.

Di depan makam Yoona, Yesung segera berjongkok dengan kaki kanannya diletakkan ke belakang sebagai penyangga tubuhnya. Ia melepas kacamata hitamnya. Kemudian mengusap nisan Yoona dengan penuh perasaan. Yesung tersenyum samar setelah itu.

Hey, chagiya..“ Yesung masih terus memanggil Yoona dengan sebutan ‘chagiya‘.“Bagaimana kabarmu disana? Kau pasti sedang berada di surga, kan? Aku sangat rindu sekali padamu. Hem .. kapan kita bertemu lagi dan bercanda seperti dulu? Haha, mustahil ya!“ Yesung menunduk dan menghembuskan nafas panjangnya,“Makammu tetap terlihat cantik, secantik dirimu. Oh ya, aku membawakan sebuket bunga mawar putih ini untukmu. Kau pasti suka.“

Kemudian ia meletakkan sebuket bunga mawar putih itu di depan nisan Yoona. Lalu mengusap nisan itu lagi.“Sayang sekali.. aku tidak bisa berlama-lama denganmu. Aku harus kembali bekerja. Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya! Aku selalu mencintaimu. Saranghaeyo, Yoona-ya.“ Yesung kemudian berdiri—mengenakan kembali kacamata hitamnya. Lalu pergi meninggalkan makam Yoona dengan sejuta perasaan rindu yang tak pernah bisa tersampaikan.

Yoona P.O.V

.. “Sayang sekali .. aku tidak bisa berlama-lama denganmu. Aku harus kembali bekerja. Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya. Aku selalu mencintaimu. Saranghaeyo, chagiya,“

“Nado, oppa. Terimakasih sudah datang melayatku. Semoga kau tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, oppa. Kita akan bertemu lagi di surga.“ kata Yoona yang jelas dunianya sudah berbeda dengan Yesung. Dan tidak mungkin Yesung mendengar apa yang baru saja ia katakan. Ia hanya bisa melihat Yesung dari dekat namun tidak dapat menyentuhnya.

_____*

“Cinta Sejati sesungguhnya tidak dapat tergantikan oleh apapun. Walaupun ia sudah tidak berada disisi kita. Namun kita akan tetap mencintainya. Selamanya”

-FIN-

Annyeong readersnim, ini adalah FF pertamaku di blog ini. Aku gatau FF ini bakal rame atau justru sepi pembaca. Yang pasti aku sangat berterima kasih kepada semua orang yang mau meluangkan waktunya untuk membaca fanfiction ini. Syukur-syukur kalau ada yang mau memberikan komentar atau like.

Fanfiction ini sudah pernah aku posting di Wondeerfull & Bells Trix. Jadi kalau kalian menemukan fanfiction ini selain di blog yang disebutkan, berarti itu adalah plagiat. Thanks.

4 thoughts on “[Vignette] The Last Winter

  1. yeyoon couple:3 sumveh baru ketemu sama ff yeyoon. hehe sorry tadi dibaca dulu baru sempet komentar😄 kenapa harus angst lagi dan lagi yakT^T ayoayo buat ff yang happy end ‘0’)9 keep writing🙂

  2. Annyeong Bella😀 … bwehehheee…ketemu lagi nih dengan dirimu disini..*kata Bella – mimpi buruk nih😛
    wkwkkwkw…eon juga ikutan jadi author dsini hahhahaha….ahhh mian yah utk yang FF ini eon belum kasih kamu komen-nya…padahal udah baca di WP cloudaddict loh…uhm komen dsini aja deh…bis di WP eonni yang komen pada nangis-2x semua sih…emang para reader cengeng >,< … pssstttt…jangan bilang-2x yah🙂 …
    Udah ah balik ke cerita… :
    Jadi Yoona kena penyakit apaan yah? kasihan banget Yeppa dtinggal kek gtu…pas si Yoong lagi diujung tanduk berharap sih dia bisa hidup and langsung sembuh…tapiiiii kenapa mati sih…ahhh gag rela gag rela…huhuhuhuu…*yah knapa ikutan nangis sih…*dasar😛
    Yeppa emang deh drimu paling setia,tiap hari bekunjung kemakam Yoong, ngiming-ngiming bukan karena dirimu gag laku kan Bang? .. #Plak…tepok jidat…
    oh…yah Bang sadar bang itu NISAN bukan Yoona, aigoo masa Yoong disamain ma kuburan sih mukanya bisa death glare dia…doh, bang ngerayu-nya yang bener napa…cari donk di google..bahasa untuk merayu cewe yang udah meninggal..lsg klik search deh…gampang kan😀 ;D😀 …
    Bella sudah yah, eon cape nih, tapi klo komen-nya kurang panjang..just call me Ok…BYE….
    HWAITING… (^_^)9 !!!!

    • Hallo eonnie cantik, maaf ya baru bisa bales komenan😀 hehehe /ditimpuk eonnie soalnya kelamaan balas/ xD
      hwhwhw tenang aja eon, ntar aku bilangin ke readers diam2 kok /nahlo? wkwk/
      kena penyakit apa ya? penyakit anu mungkin eon, anu/?😄 iya mungkin itu sudah takdirnya yoona eonnie dalam cerita ini buat disetting meninggal /apadah bahasanya ngahahaha/
      waks masa abang yesung dibilang kagak laku? eonnie makin ngarang aja deh, seganteng dan seunyu itu gak laku pasti aneh banget :p hehehehe
      ya abang yesung ngelus2 nisan kan soalnya masih cinta banget sama yoona eonnie. nah coba eonnie bantu cariin kata-kata rayuan di google ada apa enggak?😀
      waduh eon tapi komennya masih kurang banyak nih, kapan kapan kalau komen lagi yang banyak ya kalau bisa sih dibuat oneshot biar seru gitu eon. apalagi kalau komennya dibuat berchapter/berseries malah lebih seru😄 /plak/
      yesungdalah eon sampai ketemu besok ya di fanfiction lainnya, bye bye eon terimakasih sudah menyempatkan nulis komen sebanyak drabble/? di fanfictionku hehehehe.
      kalau komennya kurang banyak, eonnie juga bisa hubungi aku kok. wkwk😄
      HWAITING juga ya eonnie! ^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s