Beautiful Spring – 1st Season

Beautiful Spring LuYoon

Beautiful Spring

By wolveswifeu

Starring

Luhan | Yoona

Genre

Romance | Fluff | Sad

Rating

PG 13+

Length

Series

Author’s Note

FF ini tidak terinspirasi dari Novel Ilana Tan yang berdasarkan 4 musim itu. Lebih tepatnya terinsipirasi dari poster yang aku buat untuk salah satu requester di blog aku. Enjoy!

Wolveswifeu’s New Fiction, Beautiful Spring

                Suara angin sepoi-sepoi itu bertiup dari timur ke barat membuat dedaunan dan bunga-bunga yang mekar di tengah-tengah taman ini bergoyang karena tiupan angina tersebut. Sekuntum mawar merah terlepas dari rumahnya. Dua lubang hidung mendekat ke mawar tersebut.

“Hmm..” Terdengar dehaman yang keluar dari mulut orang tersebut.

“Harum bukan?” Tanya seseorang yang tepat berada disebelahnya. Orang yang memegang sekuntum mawar merah itu –Yoona langsung mengangguk mantap.

“Mereka harum. Aku suka bunga, Luhan.” Jawab Yoona kepada orang yang bertanya –Luhan.

“Tapi kau harus ingat sesuatu.” Ingat Luhan. Yoona menolehkan kepalanya kepada Luhan.

“Ya?” Balas Yoona.

“Duri itu, Yoong. Bisa melukaimu,” Ucap Luhan lalu meraih jari telunjuk mulus putih Yoona dan mengelusnya pelan. “Dan aku tidak mau ini terluka, mengeluarkan cairan merah kental. Mawar itu sudah cukup merah, jadi tidak perlu diberi warna merah lagi bukan?” Gombal Luhan. Yoona langsung mendorong tubuh Luhan pelan dan terkekeh.

“Bisa saja kau. Aku muak dengan bualanmu. Luhan.” Kata Yoona lalu menggenggam mawar itu lagi.

“Selagi tak ada Sehun disini, aku akan melakukannya.” Kata Luhan.

He’s a good man, right?” Kata Yoona keluar dari topic pembicaraan.

I’m better than him.” Perkataan Luhan itu langsung masuk ke dalam pendengaran Yoona dengan sempurna. Benar, Luhan jauh lebih baik dari Sehun yang bersikap dingin kepadanya.

“Kau diam? Kenapa? Sedang berfikir bahwa aku benar?” Tanya Luhan sambil terkekeh pelan dan mendorong Yoona sampai Yoona bergeser dari tanah yang dia injak sekarang.

“Ya! Kasar sekali! Tentu dia lebih baik dari pada kau, Luhan! Sehun tidak pernah mendorongku seperti ini!” Oceh Yoona lalu berjalan dan duduk di salah satu bangku panjang di taman tersebut dan Luhan mengikutinya dari belakang lalu duduk tepat disebelah Yoona.

“Setidaknya aku tidak pernah mengacuhkanmu seperti Sehun,” Kata Luhan lalu dia mengambil beberapa helai rambut Yoona dan menghirup aroma rambut Yoona yang harum itu. “Sampai kau berbicara tentang Sehun setiap waktu, aku selalu menerimamu bukan?” Lanjut Luhan.

Luhan benar.

                “Benarkan? Aku tahu itu, Yoong.” Kata Luhan.

Okay, kau benar kali ini, Luhan.”

“Bahkan masih terekam jelas diotakku kapan kau berbicara tentang Sehun.”

“Kapan?” Satu kata pertanyaan yang bodoh keluar dari mulut Yoona.

“Dua hari yang lalu. Malam hari, ketika kita pulang dari bioskop,” Cerita Luhan menggantung. Yoona menelan saliva-nya susah payah. Bagaimana dia bisa lupa? “Disana kau cerita bahwa Sehun sedang dekat dengan sekre..” Cerita Luhan terpotong lalu melihat Yoona.

“Sekretaris barunya di kantor yang bernama Choi Jinri. Kau membuatku mengingatnya lagi, Luhan.” Diluar dugaan, Yoona yang melanjutkan perkataan Luhan.

Mian.” Sepatah kata itu keluar dari mulut Luhan dan terdengar oleh Yoona sebagai sepatah kata yang terkesan pahit.

“Untuk?” Lagi-lagi sepatah pertanyaan bodoh keluar dari mulut Yoona.

“Aku yang membuatmu mengingatkanmu hal itu lagi. Kau sudah lupa bukan?” Kata Luhan.

Gwaenchana, seharusnya aku harus ingat tentang namjachingu-ku. Terima kasih sudah mengingatkan aku, Luhan.” Sesak sebenarnya untuk Luhan ketika mendengar perkataan Yoona. Tapi, mau apa? Luhan hanya bisa mengutarakan sayangnya kepada Yoona melalui perkataan yang dianggap Yoona sebagai perkataan yang sangat memuakkan.

“Sudah hampir sore, Luhan. Tidak pulang?” Tanya Yoona. Luhan langsung mengecek arloji yang mengalung sempurna dipergelangan tangannya.

“Kenapa tidak kau saja?”

“Kenapa tanya balik?”

“Sekarang siapa yang tanya balik?

“Sekarang?” Baiklah, Luhan mengalah, dia tidak melanjutkan percakapan aneh itu.

“Aku akan pulang jika kau pulang juga.” Kata Luhan.

“Aku menunggu Sehun.” Balas Yoona.

Aniyo! Tidak bisa! Kau kesini bersamaku jadi kau juga harus pulang bersamaku!” Oceh Luhan. Yoona tidak menyahut malah merogoh tasnya dan mencari ponselnya. Dicarinya kontak yang bernama Sehun disana.

Yeobosseyo?” Ucap Yoona.

“Um.. Arasseo.” Ucap Yoona melemas lalu menutup sambungan teleponnya. Luhan berdeham lalu memperdekat jaraknya kepada Yoona.

“Bagaimana? Masih setia menunggunya?” Tanya Luhan sambil mengejek Yoona.

“Dia sudah jalan dari kantor dan segera kesini. Lebih baik kau pergi sekarang dari pada menjadi santapan miliknya nanti.” Saran Yoona. Well, Luhan sudah lelah. Luhan bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Yoona pelan.

Call me if you need me, Yoong.” Sebuah senyuman bimbang muncul diwajahnya. Ntah dia harus senang karena Luhan yang peduli padanya atau sedih karena Luhan yang terlalu peduli akan dirinya, melebihi Sehun.

***

                “Kalah lagi!” Keluh Luhan lalu melempar PSP-nya sembarang tempat.

“Bodoh! Sudah kehilangan tiga nyawa, konsen Luhan!” Kata Luhan pada dirinya sendiri. Luhan bangkit berdiri dari kasur yang dia tempati lalu menghadap sebuah jendela besar.

“Buruk!” Oceh Luhan. Yap, Luhan memang nampak buruk. Kaos rumah yang sedikit longgar itu membuat Luhan nampak lebih buruk. Sebenarnya Luhan nampak buruk karena Yoona. Luhan too much in love with Yoona. Luhan terlalu mencintainya sebagai wanita yang dia cintai. Luhan ingin lebih. Luhan ingin Yoona menjadi miliknya, seutuhnya.

Luhan meraih jaketnya yang berwarna hitam. Tidak lupa untuk memasukkan dompetnya ke dalam saku jaketnya. Ah yah, satu lagi, membetulkan rambut agar tidak disangka orang gila nantinya.

***

                “Errrhh, dingin!” Keluh Luhan sambil lengannya sendiri dan berjalan di trotoar samping jalanan kota Seoul yang ramai ini. Jarum jam jalanan yang besar itu sudah menunjuk pukul delapan tapi Luhan masih berkeliaran di jalanan ini.

Luhan berhenti di sebuah café kecil dan masuk ke dalamnya. Luhan berjalan ke arah kasir dan tersenyum ramah kepada pelayan disana.

Hot chocolate-nya satu.” Ucap Luhan cepat. Ketika Luhan melihat mulut pelayan itu mau terbuka, dengan cepat Luhan memotongnya. “Take away.” Saat itu juga sang pelayan tersenyum dan membuatkan Luhan hot chocolate sesuai pesanannya.

Sembari hal itu, Luhan mengeluarkan beberapa lembar uangnya dari dompet yang dia bawa dan memberikannya kepada pelayan yang sudah berada di depannya dengan hot chocolate pesanannya. Luhan memberikan lembar uang itu dan meraih hot chocolate-nya.

“Terima kasih banyak.” Ucap Luhan lalu berbalik dan berjalan keluar café. Saat itu juga ada sepasang kekasih yang sedang menikmati dessert kecil mereka di atas meja. Kehangatan, kemesaraan, dan kebersamaan mereka terhumbar begitu saja yang mampu membuat orang yang melihat bisa cemburu dan iri mati. Beruntungnya Luhan tidak melihat mereka, tidak melihat Sehun dan yeoja disampingnya. Yap, sepasang kekasih itu –Sehun dan yeoja-nya lah yang menghumbar kemesraan tersebut.

***

                Luhan meneguk hot chocolate-nya hati-hati. Panas, sangat panas bahkan. Tapi hawa panas itu hilang diselimuti hawa dingin kota Seoul ini. Luhan berjalan ke taman yang dia datangi bersama Yoona tadi, sudah pukul setengah Sembilan malam. Kemungkinan besar ada orang di taman saat seperti itu sangatlah kecil. Ditambah lagi udara yang dingin di musim semi ini.

“Pegal.” Keluh Luhan lalu duduk di salah satu bangku panjang disana. Luhan menoleh kanan dan kiri. Yang bisa dilihat oleh Luhan hanyalah sebuah lampu berwarna putih terang menerangi taman yang luas ini. Jadi hanya beberapa spot saja yang kena oleh sinar lampu itu.

“Hun.. hiks.. Hun..” Terdengar isakkan tangis. Luhan tersentak. Luhan langsung meletakkan hot chocolate-nya dengan tangan yang gemetar ke atas bangku panjang itu, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.

“Hiks.. Hun..” Isakkan itu terdengar lagi. Luhan menelan saliva-nya susah payah. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu berdiri.

“Ya! Keluar! Aku tahu kau bukan hantu, hantu itu tidak menangis!” Ancam Luhan. Suara isakkan itupun berhenti.

“Sehun?” Suara ini, Luhan mengenalinya. Suara indah milik Yoona Jung.

GREP!

                “Luhan!!” Panggil Yoona yang sudah memeluk Luhan sekarang. Memeluk Luhan dengan erat. Kepalan Luhan itu lama-kelamaan mengendur dan berada di punggung dan puncak kepala Yoona sekarang.

“Yoong..” Panggil Luhan sendu.

Wae?” Tanya Yoona yang masih berada dipelukkan Luhan.

“Aku mencintaimu, jadilah yeojachingu-ku, Yoong.”

“Tapi, Sehun..”

I’m here for you.” Perkataan Luhan itu langsung membuat Yoona meleleh begitu saja. Yoona melepas pelukkannya dan tersenyum kepada Luhan. Ibu jari Luhan bergerak ke pipi mulus Yoona, membersihkan jejak air mengalir dari matanya.

Would you be my girlfriend?

NEXT CHAPTER : SUCKMMER

13 thoughts on “Beautiful Spring – 1st Season

  1. Luhan ny baik bnget sih…story ini ga tau kenapa mengingat kan ku sama lagu ny GD yg that XX deh..hehehe..😛
    Seru cerita ny..kaya ny ff ini juga udah di published di YoongEXO yo.,belum smpet baca yg ini di stu…hehe mian ^^

  2. Yah, saya baca dari awal saja ~penggemar baru Yoon A (3 jam) dan pembaca baru di sini~ ceritanya bagus, anyway, walaupun genrenya agak sad~ fankomedifanfiction. Makasih sebelumnya udah mengizinkan (?) Saya baca fiksi ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s