Because Ice Cream

BecauseIceCream

Fanfiction by Ladyoong

Title     :  BECAUSE ICE CREAM

Main Cast    :  IM YOONA and LEE DONGHAE

Cast     :  YE ZIYU (Ulzzang Baby)

Genre   :  ROMANCE and HUMOR

Rating  :  PG 13

Type    :  1SHOT

Disclaimer       :

Stories are mine, pure mine. Casts belong to God, their agency, their parents, their group and their fans. Sorry for typo(s) and grammar error. Give me your comment. Bashing and plagiator not allowed. Don’t be silent readers.

N/A      :

Annyeong! Bonjour! Sebenernya ff ini udah lama bersemayam difolder laptop, ini drabble yang pake couple YoonHae pertama kali yang aku buat. Pas dibaca ulang lagi ada typo disana-sini jadinya diputusin buat ngerombak semua alurnya muahaha xD sekalian ngebenerin ketikannya /curhat/apa/ Pernah diposting di akun pribadi Ladyoong’s Land dan Yoona Donghae Fanfiction

xxx—xxx

Helaan nafas kesal sudah beberapa kali terdengar dari balik bibir milik pria itu. Sesekali, telapak tangannya di gunakan untuk mengusap daun telinganya. Suara cempreng yang sebelas duabelas dengan radio rusak hampir membuat kedua gendang telingannya menjadi pengang. Sepertinya, sehabis menyelesaikan urusan ini ia harus cepat-cepat pergi ke dokter THT.

Donghae—pria tadi–hanya pasrah menjadikan lengan kanannya sebagai korban-adegan-tarik-menarik-paksa. Sekali lagi, ia mendengus kesal sebagai pelampiasannya. Ingin rasanya sebelah tangannya yang bebas mendarat dengan mulus—menjitak–di atas kepala mungil itu. Sayangnya, ia masih mempunyai rasa kesabarannya yang cukup tinggi.

Ya! Ahjussi, kenapa jalannya pelan sekali huh?” suara protesan mulai terdengar kembali. Donghae merotasikan kedua matanya malas. “Aku haus. Aku ingin minum!”

“Ini sudah cepat, Ziyu. Yasudah, kita mampir ke minimarket sebentar.” Donghae berusaha membuat suaranya agak serendah mungkin. Memasang wajah sesabar mungkin.

“Tidak mau! Pokoknya aku mau es klim!”

“Tadi katanya kau sudah haus, jadi men—“

“Es klim! Es Klim! Titik!”

Oh God, jangan sampai bocah satu ini habis di tanganku, umpat Donghae. Hari apa sekarang? Apa ini hari tersialnya? Benarkah? Oke itu berlebihan. Sepertinya memang benar seratus persen. Menjadi babysister mendadak dalam satu hari ini dan sialnya bersama dengan bocah tengik ini. Ayolah, ini semua semacam lelucon baginya. Sebuah rapat penting di kantornya harus di relakannya begitu saja hanya demi menjadi-babysister-mendadak. Itu konyol.

Awas saja kau Donghwa, habis kau di tanganku! Donghae merasa kesal setengah mati saat menerima pesan singkat dari saudara satu-satunya. Menjaga sementara keponakan-tersayangnya-selama-seharian. Hari sial Donghae di mulai dari setengah jam yang lalu. Dan sekarang, keponakan-tersayangnya ini meminta hal aneh. Haus. Es krim. Oh ayolah, toko es krim yang terdekat dari sekolahnya lumayan jauh. Parahnya, mobilnya harus mendadak mencari masalah dengannya. Mogok.

“Ziyu, bagaimana kalau kita ke café yang di sebrang sana. Bukankah kau sangat haus? Toko es krim sang—“ lagi dan lagi ucapan Donghae terputus dengan suara protesan khas anak kecil.

Aniyo! Es klim! Es klim!”

Donghae menghela nafasnya perlahan. Mengumpulkan kesabarannya menjadi satu lagi. Kali ini, ia harus dengan pasrah mengikuti kemana bocah tengik ini menariknya. Ralat, maksudnya menyeretnya. Kapan penderitaan ini berakhir?

Ahjussi, aku ingin es klim rasa vanilla choco!” wajah mungil itu tenggelam di balik daftar menu. Mengayunkan kedua kakinya yang bahkan tak lebih dari 120 cm. Akhirnya, tubuh mungilnya sudah duduk dengan manis di dalam kedai es krim.

“Ayolah, jangan panggil ahjussi panggil saja hyung” Donghae agak berbisik pada Ziyu. Seorang Lee Donghae di panggil dengan sebuat ahjussi? What? Umurnya saja baru dua puluh enam tahun, itu masih terbilang muda dan wajahnya masih tampan awet muda.

Aniyo! Aku sudah telbiasa, ahjussi.”

Donghae menggeram kesal saat melihat wajah nan polos tersebut. Darimana keponakannya ini mendapat gen evil? Harus di pertanyakan, pasalnya di keluarga besarnya tidak ada yang mempunyai gen seperti itu. Masa bodoh. Di raihnya handphone di saku jasnya, mengecek bagaimana hasil rapat tadi lewat sekretarisnya.

Suasana hening mulai mengambil ahli. Donghae mengetukkan jemarinya di atas meja. Bosan. Di liriknya keponakannya yang sedang asik dengan PSP-nya. Kenapa dirinya harus terjebak berdua dengan bocah tengik ini? Seharusnya dirinya terjebak dengan seorang gadis cantik bukan bocah tengik. Bicara tentang seorang gadis. Donghae jadi teringat dengan seseorang yang mampu membuat degup jantungnya berdetak cepat. Tepatnya, tadi ketika dirinya menjemput Ziyu.

“Ziyu, jawab pertanyaanku. Oke?”

Hening…

Hening…

“Lee Ziyu!” Donghae mengambil paksa PSP dari tangan bocah umur enam tahun itu. Ziyu mengerucutkan bibir mungilnya, sangat lucu.

Ya! Ahjussi! Balikkan PSP-ku!”

“Jawab pertanyaanku terlebih dulu, atau kau ingin PSP ini di buang oleh appa-mu. Arraseo?”

Nde, allaseoyo!”

Donghae tersenyum puas melihat wajah jelek keponakannya. Berdehem sebentar, “Siapa guru perempuan tadi?”

“Gulu pelempuan di sekolah sangat banyak. Maksud ahjussi yang mana?” Donghae menepuk dahinya mendengar jawaban polos Ziyu. Salah bicara.

“Maksudku yang tadi menemanimu di depan gerbang. Apa itu gurumu?”

“Ah, kalau yang itu namanya Yoona sangsaenim

“Yoona? Nama yang cantik seperti orangnya,” gumam Donghae pelan, kedua sudut bibirnya tertarik mengulas sebuah senyuman.

“Kenapa memangnya, ahjussi?” tanya Ziyu dengan polosnya. Donghae menggeleng cepat, menetralkan raut wajahnya lagi. Baru ingin membuka mulutnya, seorang pelayan mengintrupsinya. Ziyu memekik girang, mengambil cepat sebuah gelas dengan ukuran cukup besar untuknya.

Donghae tak habis percaya. Bocah tengik ini mempunyai ukuran perut yang seperti apa? Haus atau doyan? Apa perut bocah jaman sekarang memang kapasitas besar? Itu pertanyaan bodoh Lee Donghae. Hanya butuh beberapa menit, Ziyu mampu menghabiskan segelas besar es krim. Donghae hanya melongo melihatnya.

Ahjussi, aku ingin es klim lagi!”

Mwo? Tidak tidak! Kau sudah menghabiskan segelas besar,”

“Tapi aku ingin es klim lagi!”

“Kataku tidak ya tidak! Kau ingin mendapat omelan dari appa-mu?”

Ahjussi, hanya sekali lagi. Aku ingin es klim!”

“Tidak Lee Ziyu!”

“Es klim lagi!”

“Tidak!”

Dan benar saja, kini mereka berdua sudah menjadi perhatiaan pengunjung lainnya. Di tambah, suara tangisan yang berasal dari bocah tengik. Donghae meruntuk semua pengunjung kedai ini melirik sinis ke arahnya. Sungguh, tadi ia tak bermaksud membentaknya. Kini tugasnya, membujuk bocah ini untuk berhenti menangis.

“Sudah berhenti menangis, Ziyu. Jangan menangis,” bujuk Donghae, bukannya berhenti malah makin menjadi menangisnya. Ayolah, Donghae bingung apa yang harus di lakukannya. Suara-suara sinis yang terarah untuknya mulai terdengar.

Donghae sudah menjadi seorang terdakwa yang akan di jatuhkan hukuman mati. Donghae terus menerus melancarkan berbagai rayuan. Tapi tetap saja, tangis Ziyu semakin menjadi. Pandangan Donghae terahli pada seseorang yang kini menghampiri mejanya.

Degup jantungnya tiba-tiba saja berpacu lebih cepat. Donghae merasakan udara di sekitarnya mulai menipis. Wajah itu. Ia melihat wajah itu lagi sekarang, di sini.

“Ziyu-ah, kenapa menangis?” suara lembut dari seseorang itu mulai terdengar. Mengelus rambut kecokelatan milik Ziyu, ibu jarinya menghapus bulir-bulir air mata di antara kedua pipi tembem.

Sangsaenim… hiks…” Ziyu mengangkat kepalanya. Masih sesegukan bibir mungilnya masih mengeluarkan suara isakan. Telapak tangan kecil miliknya menghapus kasar air matanya. Memandang seseorang yang tadi di sebutnya sangsaenim.

“Hei, kenapa menangis eoh? Sudah jangan menangis. Nanti jika menangis terus wajah Ziyu akan berubah menjadi jelek.”

“Nah, begitu. Ziyu memang anak pintar”

Bagaikan sihir. Hanya beberapa kalimat tadi, tangisan Ziyu langsung mereda. Bocah itu mengangguk lucu. Donghae melongo, gampang sekali bocah tengik ini berhenti menangis. Setidaknya, sekarang mereka sudah tidak menjadi perhatian.

Pandangan Donghae masih belum terahli dari sosok di depannya. Rasanya semua mendadak menjadi kaku. Wajah itu seperti ada magnaetnya. Seorang Lee Donghae mendadak kehilangan kendali pada tubuhnya sendiri.

“Benar apa kata ahjussi­mu tadi. Jangan terlalu banyak makan es krim, nanti jika Ziyu sakit bagaimana? Sakit itu tidak enak. Sekarang Ziyu mengerti kan?”

Nde, allaseoyo Yoona sangsaenim

Yoona tersenyum lalu mengacak rambut Ziyu. Tadi Yoona tak sengaja mampir ke kedai es krim ini. Pandangannya terahli pada sosok salah satu anak didiknya yang sedang menangis. Tanpa pikir dua kali, Yoona langsung menghampirinya. Entahlah.

“Panggil saja hyung, Ziyu” sahut Donghae yang tersadar dari lamunan konyolnya. Sekali lagi, panggilan ahjussi sangat tak cocok untuknya. Catat itu.

“Aku tidak mau!” Ziyu membuang mukanya. Yoona hanya tersenyum. Pandangan Yoona terahli kearah Donghae. Bahkan, Yoona baru menyadari ada keberadaan pria itu.

Annyeong, aku gurunya Ziyu. Im Yoona imnida,” Yoona tersenyum sambil membungkukan badannya sekilas. Donghae menjadi tergagap mendadak. Senyuman itu bagaikan sihir untuknya.

A–Annyeong, Lee Donghae imnida. Pamannya Ziyu,”

Ahjussi, ini yang namanya Yoona sangsaenim yang tadi ahjussi tanyakan—”

Sing~ Donghae menutup bibir mungil milik Ziyu. Menahan bocah tengik ini untuk tidak meneruskan perkataannya tadi. Bisa masalah jika bibir mungil itu terus membongkar semuanya.

Yoona memandang aneh. Menanyakannya? Perasaan Yoona baru pertama kali bertemu dengan pria bernama Lee Donghae ini. Bagaimana bisa—ah tunggu! Yoona baru ingat, sudah dua kali ia bertemu dengan pria ini. Tadi sewaktu di sekolah dan sekarang.

Donghae hanya tersenyum kikuk pada Yoona, “Ouch!” pekiknya merasakan gigi-gigi Ziyu mengigit telapak tangannya.

Ya! Telapak tangan ahjussi bau!” Ziyu mendengus kesal. Yoona terkekeh melihat tingkah laku antara paman dan keponakannya.

xxx—xxx

Ralat! Hari ini salah satu hari terpenting dari list hidup Lee Donghae. Donghae harus berterima kasih pada keponakannya itu. Berkat bocah tengik itu dirinya mengetahui lebih banyak tentang Im Yoona. Untung saja, permintaan bocah tengik itu sangat menguntungkannya—di satu sisi. Membuat dirinya berlama-lama berada di samping Yoona. Melihat wajah, senyuman dan tatapan itu lebih lama.

Seharian itu mereka—Donghae, Yoona dan Ziyu–menghabiskan waktunya di arena bermain salah satu terbesar di Seoul. Lotte World. Yoona yang tadinya sempat menolak permintaan Ziyu membuat Donghae menjadi was-was. Perasaan was-was itu langsung berubah lega ketika Yoona menyetujuinya. Itu juga berkat rayuan dari keponakan-tersayangnya.

Donghae cukup puas dengan hari ini. Bisa berada di dekat Yoona lebih lama. Walaupun, terkadang ia harus menahan malunya saat ucapan nan polos Ziyu yang membongkar semua aibnya. Termasuk ketika dirinya menanyakan siapa itu Im Yoona. Dan Yoona hanya terkekeh mendengar debatan mereka berdua.

“Terima kasih, sudah mau repot-repot menyetujui permintaan aneh Ziyu.” Donghae memulai pembicaraan mereka. Kini, mereka tengah dalam perjalanan pulang. Tentunya dengan berjalan kaki, mobil Donghae masih berada di bengkel.

“Tidak usah di pikirankan,” Yoona tersenyum. Sesekali tangannya menepuk punggung Ziyu dengan pelan. Bocah tengik itu tertidur karena terlalu lelah seharian bermain di Lotte World.

“Biar aku yang menggendong Ziyu,” Donghae mengambil ahli Ziyu dari gendongan Yoona. Ziyu melenguh pelan saat merasakan tidurnya agak terganggu.

Selama perjalanan, mereka berdua masing-masing mencari topik pembicaraan. Hanya mengobrol ringan. Sesekali mereka tersenyum geli. Rupanya, mereka berdua sangat cepat beradaptasi satu dengan lainnya. Donghae tambah penasaran dengan gadis ini. Begitu menarik dan yang jelasnya jantungnya kian berdetak cepat.

“Terima kasih, sudah mengantarku. Lebih baik kalian pulang, tidak baik jika Ziyu tertidur seperti itu. Annyeong,” Yoona membungkukan badannya sekilas lalu tersenyum. Mengacak pelan rambut Ziyu sebelum melanjutkan langkahnya.

“Yoona, tunggu!”

“Iya?”

“Bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Err, setidaknya untuk—”

“Ini kartu namaku. Kalau begitu, selamat malam.”

Donghae tersenyum puas. Pekikan kegirangan keluar begitu saja. Kau maju satu langkah, Lee Donghae. Pandangannya masih terarah sampai punggung Yoona hilang di balik ceruk. Sepertinya, kau berhasil membuatku gila Im Yoona.

xxx—xxx

Yoona berjalan kearah ranjangnya. Hari yang melelahkan. Air hangat lumayan membuat tubuhnya menjadi lebih segaran. Sebelah tangannya masih sibuk dengan handuk di kepalanya yang masih basah. Di raihnya handphonenya yang terasa bergetar di atas ranjangnya.

1 new message

Sebuah senyuman manis terpatri di wajah cantiknya. Begitu mengetahui siapa yang mengiriminya pesan. Kenapa ia begitu sesenang ini? Im Yoona, ada apa denganmu huh? Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat merasakan kedua pipinya menghangat.

“Lee Donghae… pria yang baik dan cukup menyenangkan.”

The End

10 thoughts on “Because Ice Cream

  1. YoonHae jjang~~ aish ziyu polos amat wkwk :3 ff ini juga udah pernah aku baca tapi gak bosen-bosen juga wkwk xD author dikasih sequel coba moment YoonHae disini dikit banget masa.___. sequel ditunggu muehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s